
TL;DR
Nanga Pinoh adalah ibu kota Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, yang berdiri di titik pertemuan Sungai Melawi dan Sungai Pinoh. Kota ini berjarak sekitar 380 km dari Pontianak dengan waktu tempuh 8-9 jam lewat jalan darat. Dijuluki “Kota Juang” karena sejarah perlawanannya terhadap Belanda, Nanga Pinoh juga punya potensi wisata alam dan budaya yang beragam, dari air terjun hingga situs sejarah.
Di pedalaman Kalimantan Barat, ada sebuah kota kecil yang berdiri tepat di pertemuan dua sungai besar. Nanga Pinoh, ibu kota Kabupaten Melawi, mungkin bukan nama yang langsung familiar bagi kebanyakan orang di luar Kalimantan. Tapi bagi masyarakat di sepanjang aliran Sungai Melawi, kota ini adalah pusat perdagangan, pemerintahan, dan kehidupan sehari-hari yang sudah berperan sejak abad ke-18.
Kabupaten Melawi sendiri terbentuk pada 18 Desember 2003 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Sintang berdasarkan UU No. 34 Tahun 2003. Dengan luas wilayah sekitar 10.640 km persegi dan 11 kecamatan, Melawi termasuk salah satu kabupaten terluas di Kalimantan Barat. Nanga Pinoh menjadi pusat pemerintahan sejak kabupaten ini resmi berdiri.
Lokasi dan Geografi Nanga Pinoh
Nama “Nanga Pinoh” sendiri berasal dari posisi geografisnya. Dalam bahasa setempat, “nanga” merujuk pada muara atau pertemuan sungai. Kota ini terletak tepat di titik bertemunya Sungai Melawi dan Sungai Pinoh, dua sungai yang menjadi urat nadi transportasi dan kehidupan masyarakat di kawasan ini.
Secara administratif, Nanga Pinoh adalah salah satu dari 11 kecamatan di Kabupaten Melawi. Menurut data BPS Kabupaten Melawi, jumlah penduduk kecamatan Nanga Pinoh mencapai 54.424 jiwa berdasarkan Sensus Penduduk 2020, menjadikannya kecamatan terpadat di kabupaten ini. Sebagai perbandingan, total penduduk seluruh Kabupaten Melawi pada 2024 tercatat sekitar 215.510 jiwa. Artinya, sekitar seperempat penduduk Melawi tinggal di Nanga Pinoh dan sekitarnya.
Topografi Kabupaten Melawi didominasi perbukitan, sekitar 82% dari total luas wilayahnya. Nanga Pinoh sendiri termasuk kawasan dataran rendah di antara perbukitan tersebut, dengan iklim tropis khas khatulistiwa: rata-rata suhu harian sekitar 27°C dan curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun.
Jejak Sejarah di Balik Julukan “Kota Juang”
Nanga Pinoh punya sejarah yang lebih tua dari Kabupaten Melawi itu sendiri. Pada abad ke-18, wilayah ini berada di bawah pengaruh Kesultanan Sintang. Menurut catatan sejarah kecamatan, lokasi pusat kota awalnya bukan di tempat yang sekarang. Pada tahun 1862, pusat kota dipindahkan dari Tekelak ke lokasi saat ini karena alasan praktis: pantai di lokasi lama terlalu curam dan menyulitkan bongkar muat barang dagangan.
Babak penting dalam sejarah kota ini terjadi setelah kemerdekaan Indonesia. Pada Oktober 1945, Belanda melalui NICA kembali menguasai Nanga Pinoh. Perlawanan tidak butuh waktu lama untuk muncul. Organisasi Pemberontak Merah Putih (OPMP) yang dipimpin oleh Ade Mohammad Djohan berhasil menguasai Nanga Pinoh selama enam hari, menunjukkan semangat perjuangan masyarakat lokal dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dari peristiwa-peristiwa inilah Nanga Pinoh mendapat julukan “Kota Juang”. Julukan ini bukan sekadar nama. Di pusat kota, berdiri Tugu Juang (dikenal juga sebagai Tugu Apang Semangai) sebagai pengingat perjuangan rakyat Melawi melawan penjajah. Tugu ini terletak di perempatan lampu merah, titik paling ramai di kota.
Keberagaman Suku dan Agama
Penduduk Nanga Pinoh cukup beragam untuk ukuran kota kecil di pedalaman Kalimantan. Suku Dayak, Melayu, dan Tionghoa merupakan kelompok utama. Tapi Anda juga akan menemukan komunitas Jawa, Banjar, Bugis, Batak, dan Minahasa yang sudah lama menetap di sini.
Dari sisi agama, mayoritas penduduk Nanga Pinoh memeluk Islam (sekitar 67,85%), diikuti Kristen (29,96%, terdiri dari Katolik 15,06% dan Protestan 14,90%). Sisanya menganut Buddha (1,76%), Konghucu (0,41%), dan Hindu (0,02%), berdasarkan data Kemendagri 2021. Komposisi ini sedikit berbeda dari Kabupaten Melawi secara keseluruhan, di mana proporsi pemeluk Islam dan Kristen hampir berimbang (50,39% Islam dan 48,96% Kristen).
Keberagaman ini tercermin dari jumlah rumah ibadah di kecamatan Nanga Pinoh: 55 masjid, 93 mushola, 25 gereja Protestan, 6 gereja Katolik, dan 1 vihara.
Cara Menuju Nanga Pinoh dari Pontianak
Akses menuju Nanga Pinoh masih menjadi tantangan utama. Jarak dari Pontianak sekitar 380 km melalui Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah, melewati Sanggau, Sekadau, dan Sintang. Waktu tempuh normalnya sekitar 8 jam dengan kendaraan pribadi, bisa lebih lama jika kondisi jalan sedang kurang baik, terutama di musim hujan.
Untuk transportasi umum, ada beberapa pilihan. Bus DAMRI melayani rute Pontianak ke Nanga Pinoh dengan tarif sekitar Rp150.000-175.000 per orang, berangkat dari Terminal ALBN Ambawang Pontianak. Jadwal keberangkatan biasanya pagi (sekitar pukul 08.00) dan malam (sekitar pukul 19.00). Selain DAMRI, ada juga PO ATS dan beberapa operator travel seperti Abi Trans yang melayani rute yang sama.
Di Nanga Pinoh, terminal bus utamanya adalah Terminal Sidomulyo yang menjadi titik naik-turun penumpang antarkota. Nanga Pinoh punya bandara (Bandara Nanga Pinoh, kode IATA: NPO), tapi saat ini tidak ada penerbangan komersial terjadwal. Bandara ini sempat beroperasi dengan Susi Air pada 2011, namun layanannya tidak bertahan lama. Jika Anda ingin menggunakan jalur udara, opsi terdekat adalah terbang ke Sintang, lalu melanjutkan perjalanan darat sekitar 3-4 jam ke Nanga Pinoh.
Landmark dan Wisata di Nanga Pinoh
Nanga Pinoh memiliki beberapa landmark yang menjadi ikon kota. Selain Tugu Juang yang sudah disebutkan, ada Tugu Republik Indonesia Serikat (RIS) di Tanjung Niaga. Tugu ini dibangun pada 1949 sebagai penanda hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag dan sekarang menjadi cagar budaya. Letaknya di tepi jalan, tidak jauh dari kawasan pasar dekat sungai.
Landmark ketiga yang cukup unik adalah sebuah tugu di simpang masuk lapangan terbang. Bentuknya patung pahlawan berdiri membawa bendera, tapi masyarakat justru lebih mengenalnya dengan sebutan “Tugu Naruto” karena kemiripan visualnya. Nama resminya adalah Tugu Monumen Pahlawan.
Untuk wisata alam, kawasan Kabupaten Melawi menawarkan beberapa pilihan menarik. Air Terjun Telaga Mawang di Kecamatan Belimbing termasuk yang paling populer. Puncak Tahlut di Desa Semadin Lengkong menawarkan pemandangan hamparan hijau dan perbukitan. Lebih dekat ke kota, Air Terjun Nibung di Desa Poring, Kecamatan Nanga Pinoh, bisa menjadi pilihan yang tidak perlu waktu tempuh terlalu jauh.
Di pusat kota sendiri, ada lapangan yang setiap malam berubah menjadi area wisata kuliner. Tempatnya tepat di tengah kota dan menjadi salah satu aktivitas malam yang paling ramai bagi warga setempat.
Ekonomi dan Kehidupan Sehari-hari
Perekonomian Kabupaten Melawi masih bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, yang menyumbang sekitar 19,78% terhadap PDRB. Karet dan kelapa sawit menjadi komoditas perkebunan utama. Di Nanga Pinoh sendiri, aktivitas perdagangan dan jasa pemerintahan menjadi penggerak ekonomi lokal.
Sungai Melawi dan Sungai Pinoh bukan hanya latar belakang geografis, tapi masih berfungsi sebagai jalur transportasi air antarkecamatan, terutama untuk wilayah yang belum terjangkau jalan darat dengan baik. Perahu motor menjadi moda transportasi yang umum untuk menyusuri sungai menuju desa-desa terpencil.
Meski pertumbuhan ekonomi Kabupaten Melawi menunjukkan tren positif (4,54% pada 2023), tantangan aksesibilitas dan infrastruktur masih menjadi kendala. Fasilitas air bersih, misalnya, masih belum merata di seluruh wilayah kabupaten. Jalan penghubung antarkecamatan di beberapa titik juga perlu perbaikan, terutama di musim hujan ketika sebagian ruas jalan menjadi sulit dilalui.
Nanga Pinoh sebagai Gerbang Pedalaman Melawi
Bagi siapa pun yang ingin menjelajahi pedalaman Kalimantan Barat, Nanga Pinoh adalah titik awal yang paling logis. Dari sini, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya yang membentang di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, atau menyusuri Sungai Melawi ke arah hulu untuk menemui komunitas Dayak yang masih mempertahankan tradisi mereka.
Nanga Pinoh memang bukan kota besar. Tapi posisinya di pertemuan dua sungai, sejarah perjuangannya yang kuat, dan keberagaman penduduknya menjadikan kota ini lebih dari sekadar titik di peta. Bagi yang berencana berkunjung, siapkan waktu perjalanan yang cukup dari Pontianak dan pastikan kondisi jalan sebelum berangkat, terutama jika Anda datang di musim penghujan.